Wacana

Blog EntrytulusjogjaJul 1, '08 1:11 PM
for everyone

Latar Belakang

BAIT lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman: ".....bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya.....", seharusnya dapat menyentuh hati, menginspirasi pikiran dan menggerakkan tindakan dari segenap anak bangsa untuk bangkit “Berbakti Bagi Ibu Pertiwi” meraih kejayaan bangsa.

Kini, di usia menjelang ke-62 tahun, Indonesia sudah menjadi Ibu Pertiwi yang tua-renta, seakan kehabisan energi dan kehilangan masa depannya. Indonesia, Ibu Pertiwi kita ini, dihancurkan oleh kepentingan-kepentingan yang menjual harga diri kita sebagai bangsa. Entahlah, mengapa kita menggadaikan negeri ini kembali ke kaum penjajah, yang sepanjang sejarah sudah kita lawan bersama.

Sekarang ini, Ibu Pertiwi sedang tertatih-tatih sambil menangis di tengah pertarungan global yang ketat dan keras. Kondisi ini terjadi, akibat penderitaan beruntun yang menghantam wajah Negeri ber-Sang Saka Merah-Putih ini. Memang, hidup penuh air mata seringkali menjadikan kita kebal, mungkin karena hilang harapan atau bahkan tidak peduli, sepertinya tidak ada yang perlu dipertaruhkan lagi.

Kini Ibu Pertiwi termenung sendiri, merana, menangis dan berdoa. Bukan saja karena melihat anak-anaknya sedang bertikai tiada henti. Tetapi, ia juga sedang mengandung bayi reformasi, yang belum juga kunjung lahir dari rahimnya. Kita berdoa, semoga itu anak terakhir, dan menjadi Parikesit dalam menapaki era baru seperti episode Mahabarata.

Sekaranglah saatnya kita tunjukkan, bahwa kita mampu bangkit dari keterpurukan dan “Berbakti Bagi Ibu Pertiwi”, seperti John F. Kennedy yang mengatakan: "Jangan bertanya apa yang sudah diberikan bangsa ini kepada kita, tetapi tanyakan apa yang sudah kita berikan terhadap bangsa ini". Now is the right time in 'Devoting to our Mother Land'.


Ruh Yogya untuk Indonesia

KETIKA saya menerima gagasan akan digelar wacana tentang Keistimewaan DIY (2), ada perasaan bangga, karena pemrakarsanya adalah Kaum Muda, yang biasanya kurang peduli tentang hal-hal seperti itu. Serta-merta saya seperti tergugah untuk merefleksi kembali peristiwa hampir 80 tahun yang lalu, saat diselenggarakan Kongres Pemuda Ke-2. Ketika itu Kaum Muda Indonesia telah melahirkan wawasan kebangsaan dan mendorong percepatan menuju tercapainya Indonesia Merdeka.

Sejarah mencatat, Kongres itu melahirkan “Soempah Pemoeda” yang terkenal dengan ikrar 'Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa: Indonesia', yang oleh Pemuda Yamin disebut 'Roch Indonesia'. Mungkin suasana inilah yang memberi inspirasi Kaum Muda Yogya saat itu, perlunya menegaskan kembali 'Semangat Keistimewaan Yogya'. Barangkali sekarang ini ada kegayutannya jika menyebut 'Ruh Yogyakarta' dalam kontribusinya terhadap 'Ruh Indonesia'.

Setidaknya dalam embrio gagasannya sudah terentang pada garis benang merahnya pada aspek historis yang harus diisi dengan kearifan budaya yang digali dari bumi sejarah Yogyakarta sendiri sejak menjadi Kota Revolusi dan Ibukota Republik.

Sesungguhnya sudah lama, keinginan warga masyarakat untuk memiliki regulasi yuridis yang memadai guna mengatur kompleksitas predikat keistimewaan DIY, sebagai 'Ruh Yogyakarta'. Tetapi sampai sekarang kandungan 'ruh' keistimewaan itu belum juga terwujud. Dalam upaya menyusun penyempurnaan regulasi dalam rangka keistimewaan DIY, setidaknya tiga “ruh” penting yang patut dipertimbangkan. Pertama, pemahaman yang komprehensif tentang sejarah DlY, baik sejarah masyarakat maupun pemerintahannya. Kedua, perkembangan kekinian, dengan munculnya pro dan kontra di masyarakat, di antara politisi dengan pandangan dan kepentingan politiknya serta pakar sejarah dan ketatanegaraan. Ketiga, persoalan status tanah-tanah di DlY yang belum mendapatkan kepastian hukum, yang akan punya implikasi luas di masyarakat pada masa yang akan datang. (From 'the Soul of Yogyakarta' to enrich 'the Soul of Indonesia').

Makna Keistimewaan

HARUS diakui, jika kita memang belum final merumuskan secara eksplisit tentang makna keistimewaan, maka adalah tugas kita bersama untuk menegaskan makna tersebut, agar kita memiliki kesamaan prinsip dan pemahaman. Padahal konstitusi telah mengamanatkan, bahwa pengakuan atas Keistimewaan sudah secara jelas dan tegas dinyatakan dalam UUD 1945 Pasal 18 beserta amandemennya. Demikian juga dengan sejumlah UU mengenai penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, termasuk UU No 32 Tahun 2004.



Tahta Untuk Rakyat

Peneguhan tekad Tahta Untuk Rakyat, demikian juga Tahta Bagi Kesejahteraan Kehidupan Sosial-Budaya Rakyat, adalah komitmen Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang akan selalu membela kepentingan rakyat, dengan berusaha untuk bersama rakyat, dan memihak rakyat. Tahta Untuk Rakyat harus dipahami dalam konteks keberpihakan Kraton terhadap rakyat dalam rangka menegakkan keadilan dan kebenaran serta meningkatkan kualitas hidup rakyat. Oleh karena itu, Tahta Untuk Rakyat harus dipahami dalam penyikapan Kraton yang diungkapkan dengan bahasa sederhana Hamangku, Hamengku, Hamengkoni.

Dengan demikian, Tahta Untuk Rakyat menegaskan hubungan dan keberpihakan Kraton terhadap Rakyat, sebagaimana tertuang dalam konsep filosofis “Manunggaling Kawula-Gusti”. Keberadaan Kraton karena adanya rakyat, sementara rakyat memerlukan dukungan Kraton agar terhindar dari eksploitasi yang bersumber dari ketidakadilan dan keterpurukan. Kraton tidak akan ragu-ragu memperlihatkan keberpihakan terhadap Rakyat, sebagaimana pernah dilaksanakan pada masa-masa Revolusi dulu.
The Substances of Yogyakarta Special Province are contained in Article 18 of the Constitution 1945 and its amendments, as well as contained in several Laws including Law Number 32 Year 2004.


Sikap Spiritual-Kultural

PADA intinya, dalam kita membangkitkan semangat bangsa dari krisis yang berkepanjangan ini, hendaknya kembali merevitalisasi khasanah lama yang sudah terpateri dalam sejarah perjuangan bangsa, karena di sana telah dengan lengkap memuat sumber moralitas, spirit maupun 'ruh' ke Indonesiaan. Demikian juga dalam merunut Keistimewaan DIY, juga mengandung pesan dan penegasan terhadap makna tersirat dalam dokumen sejarah yang tak terbantahkan. Bukankah Bung Karno pernah berpesan: "Janganlah sekali-kali meninggalkan sejarah?".

Itulah sekelumit nilai-nilai substansial yang sejatinya menandai ciri khas keistimewaan DIY berbeda dengan propinsi lain, yang ingin saya titipkan kepada seluruh Rakyat. Semua uraian itu sesungguhnya adalah sebuah renungan dan ajakan untuk mengkaji kembali sejarah keberadaan Pemerintahan DIY beserta Masyarakatnya.

Selanjutnya setelah saya pertimbangkan secara mendalam dengan laku spiritul memohon petunjuk-Nya, maka saya harus mengambil ketegasan Sikap Spiritual-Kultural yang saya tuangkan dalam sebuah Pernyataan Sejarah, sebagai berikut:

1. Dengan tulus ikhlas saya menyatakan tidak bersedia lagi menjabat sebagai Gubernur/Kepala Daerah Propinsi DIY pada purna masa jabatan tahun 2003-2008 nanti.

2. Selanjutnya saya titipkan Masyarakat DIY kepada Gubernur/Kepala Daerah Propinsi DIY yang akan datang.

(The Historical Statement of Sultan Hamengku Buwono X as the Spiritual-Cultural StandPoint:

1. With all my heart and soul, I sincerely declare that I am not willing to take hold of the Governor/Regional Leader of the Yogyakarta Special Province on the next post-period of 2003-2008.

2. Furthermore, I entrust the people of Yogyakarta to the next Governor/Regional Leader of the Yogyakarta Special Province.)

Pesan Kesejarahan

MAKA, guna menandai momentum Tasyakuran malam ini, saya ingin membacakan sebuah Renungan dan Pesan Kesejarahan melalui puisi

'Kesaksianku'.

Dengan mengucap Bismillahhirahmannirahim kuguratkan kesaksianku:
Sang Mandala berputar meninggalkan jejak-jejak sejarah
Tanpa berpaling berdasa warsa terlampaui
Zaman berganti mengikuti kala yang berganti
Hanya Dia yang tak terganti
Laa ilaaha’illallaah, Laa ilaahaíillallaah
Aku takkan bermakna tanpa mereka
Mereka yang memiliki arti
Mereka yang bersuara
Suara-suara yang jelas terdengar
Laa ilaaha’illallaah, Laa ilaahaíillallaah
Suara-suara itu kini makin keras terdengar
Bukan dari mulut semata, bukan dari kekosongan belaka
Suara-suara dari jiwa-jiwa yang ingin merdeka
Suara-suara kawula yang menyatu dengan alam raya
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Itulah suara hati, suara nurani
dari mereka yang berjalan bersamaku
Guratanku adalah suara mereka
Jeritanku adalah jeritan mereka
Tangisku adalah tangis mereka
Ceriaku adalah ceria mereka
Hatiku adalah hati mereka jua.


Melalui Sikap dan Pernyataan serta Renungan dan Pesan seperti itu, lewat guratan “Kesaksianku” ini, hendaknya 'Ruh Yogyakarta' itu diaktualisasikan dengan ruh baru, ruh kemajuan, ruh demokrasi yang berkeadilan, sesuai akar budaya yang kita miliki dan tantangan masa depan.

Berkaitan dengan Malam Tasyakuran ini, Anand Krishna mengambil jalur penafsiran “Jangka Jayabaya” yang berbeda. Jayabaya mengajak kita untuk mentransformasi diri, mengalahkan ketakutan. Jangankan menantikan sosok 'Herumukti', seorang tokoh 'dari langit' yang bersenjatakan trisula, tombak tajam bermata tiga: kebenaran, keadilan dan kejujuran, dia melihat Jayabaya berbicara mengenai kerinduan akan penemuan jatidiri setiap manusia Indonesia, yang sejatinya adalah kita-kita sendiri juga!

Tampaknya secara tematik ada relevansinya dengan acara malam ini, di mana kita-kita sendirilah yang harus menangkap makna tersirat dalam bait lagu perjuangan di awal tulisan ini: "Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya" -membangun jiwa-raga guna 'Berbakti Bagi Ibu Pertiwi'.

Pagelaran Keraton Yogyakarta 7 April 2007

Sri Sultan Hamengku Buwono X


Blog EntryKejawaan dan AgamaApr 1, '07 12:24 PM
for everyone
Kejawaan, atau budaya Jawa, atau Kejawen. Pada saat ini mulai pudar. Kepudarannya disebabkan berbagai hal, antara lain karena pendukungnya memang sudah sangat berkurang, banyak generasi muda Jawa yang tidak lagi mengerti dan memahami budaya Jawa, dari mereka tentu saja tidak bisa diharapkan untuk dapat mengembangkannya, kalau ada hanya sebagian kecil. Budaya Jawa juga tidak dapat menyesuaikan dengan kemajuan teknologi, kalau dipaksakan maka ada kejanggalan.
Budaya Jawa senantiasa disalah mengerti oleh ideologi besar (baca : agama). Mereka senantiasa cemburu dan menganggap Budaya Jawa (kejawen) sebagai perbuatan "tidak berguna" dan bahkan bisa membawa pada pikiran sesat.
Namun anehnya banyak agama yang menggunakan budaya Jawa untuk memasukkan ajarannya pada umatnya. Tengok saja ada gereja bernama Gereja Kristen Jawa, ada Walisongo yang menggunakan Budaya Jawa (wayang dan gamelan) untuk dakwah dan sebagainya.
Menurut saya budaya dan agama itu dua hal yang (agak) berbeda namun bukan bertentangan. Artinya dapat saja orang mengembangkan budaya Jawa tanpa harus kehilangan keimanan pada Tuhan sesuai agamanya, dan membesarnya budaya Jawa tidak akan mengecilkan agama.
Budaya seringkali menggunakan pendekatan estetika dalam mengekspresikannya, sementara agama justru diekspresikan dengan kekerasan, aneh ya.
Seharusnya agama maupun budaya, diekpresikan dengan hati dan keindahan, sehingga menambah semarak hidup di dunia.
Saya seringkali mendengar pemuka agama (berbagai agama) yang menggunakan kata-kata keras untuk umat agama lain, hal ini menjadikan umat memiliki pemikiran yang keras terhadap umat agama lain. Jadilah agama sebagai pemicu kekerasan, setidaknya menjadikan toleransi terhadap (umat) agama lain menjadi hanya kata-kata manis semata (kembang lambe).
Mengapa Islam begitu menyeruak di hati orang Jawa?
Dulu orang Jawa muak dengan adanya perang Paregreg (perang antara elite umat agama Hindu dan Budha), datanglah agama baru yang penuh perdamaian dan bersifat egaliter (Islam yang dibawa oleh orang-orang Tionghoa dan orang pedagang Gujarat). Jadilah agama Islam mewarnai budaya Jawa dengan perdamaian dan toleransi yang tinggi. Indah bukan?
Budaya Jawa juga bisa dirusak oleh politik, pada jaman Orba, budaya Jawa digunakan untuk memperkuat statusquo penguasa, akibatnya menimbulkan antipati bagi non Jawa. Maka jadilah Budaya Jawa sebagai tertuduh yang tak pernah diadili di depan hakim.

Maunya apa sih?
Maunya mengajak untuk mengembangkan laku budaya sesuai dengan latar belakang budaya yang dimiliki, asalkan bisa mengasah nurani dan menambah toleransi dalam pergaulan bermasyarakat, itu aja...



Blog EntryGempaJun 27, '06 8:26 AM
for everyone

Setelah sebulan mengalami Gempa.

Kronologi

06.55  wib  Kejadian gempa, sedang ada di kantor. Kantor bergoyang keras, dinding bergetar, perabot berserakan, lari keluar terpeleset air yang tumpah, kepala bocor terbentur lantai keramik.

07.10 wib Segera kembali kerumah, alhamdullilah keluarga utuh dan sehat, rumah hanya retak retak tembok belakang ambruk dan menutup saluran air hujan. Menengok rumah tetangga, ada yang rubuh rata dengan tanah, ada yang doyong tapi rata rata hanya retak. Tidak ada korban jiwa dan lula luka, saya tinggal di RT 46 RW 13 Suryodiningrata.

07.30 wib Kembali kekantor, memastikan kerusakan yang terjadi, memotret bagian bagian yang rusak, kantor masih utuh hanya retakretak dan tanah sekitar ambles 10 cm miring ke timur. Ketika memeriksa bagian atas terdengar isu syunami, anakku teriak teriak minta pulang sebab akan ada takut syunami.

08.00Kamipun pulang, di depan kantor sudah penuh orang berlarian, sepanjang jalan terlihat orang tergopoh gopoh berlari ke utara. lari pontang panting pucat penuh dengan ketakutan. Segala kendaraan penuh dimuati orang ketakutan.

08.10 Di rumah semua keluarga sudah siap "mengungsi", membawa tas yang berisi surat surat penting, mobil sudah disiapkan di depan rumah siap berangkat. Saya menenangkan mereka dan mengatakan tidak mungkin ada syunami sampai ke kampung ku sebab jarak dengan pantai cukup jauh (30 km) dan ketinggian dari alir laut cukup tinggi (100 m). Saya waktu itu lupa memotret, sebab kejadian sangat mencekam dan semua orang panik, kecuali saya yang tersenyum melihat kejadian tersebut (aku justru dimarah oleh istriku yang mengatakan aku orangnya sembrono ada bahaya kok malah klecam klecem/tersenyu senyum saja).

Apa yang saya lihat dari gempa?

Reaksi bangsa Indonesia menghadapi "Bencana Gempa Jogja 27 Mei 2006" bervariasi, berbagai pendekatan dilakukan untuk memahami dan menyikapi kejadian luar biasa

  1. Pendekatan sosial kemanusiaan : segera menggalang bantuan, langsung terjun menolong tanpa pandang bulu
  2. Pendekatan ilmu pengetahuan, mencari tahu penyebab dan penjelasan secara ilmu pengetahuan
  3. Pendekatan keagamaan; sebagai sarana mendekatkan diri pada yang Pencipta dan sebagai sebagai sarana introspeksi manusia dalam berkehidupan agama, sara beramal sholeh
  4. Pendekatan birokrasi, segera mendata, mengklasifikasikan, mendistribusaikan dan menghitung kerugian dan melakukan koordinasi semua komponen, dan "berjanji akan menjadi jutu penolong dengan menjanjikan jumlah uanh tertentu bagi korban dan kerusakan"
  5. Pendekatan pragmatis, mengatasi dan melanjutkan kehidupan dengan berbagai cara
  6. Pendekatan fatalis, menggantung diri, menyerobot bantuan, menjarah bantuan
  7. Pendekatan kriminal: membuat isu yang meresahkan, mencuri, memanipulasi bantuan atas namanya sendiri dan kelompok, mencari nafkah pribadi
  8. Pendekatan lainnya ... bisa ditambah deh

Blog EntryPrologMay 24, '06 11:19 AM
for everyone

Prolog

Selamat datang dan perkenalkan saya... (kalau anda di rumah saya pasti saya ajak minum teh panas ditambah jeruk sedikit, sebagai gantinya sambil liat website saya, download musik yang saya sediakan, pasti nyessss...)

Web ini adalah website pribadi, tanggungjawab dan segala konsekuensinya adalah ada pada diri saya sendiri. Tulisan yang ada ataupun tanggapan dalam web site ini tidak berimplikasi apapun juga sebab hanya sekedar obrolan. Tapi kalau ada yang memanfaatkan silahkan, kutip tanpa perlu ijin asal cantumkan sumbernya.

Blog ini akan berisi pikiran, ide, obsesi dan apapun yang ada dalam benak dan sanubari saya, terutama menyangkut publik dan keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi saya NKRI sudah final, hanya bagaimana kita memperbaikinya, meluruskannya, mengingatkannya dan memberdayakannya. Agar semua Warga Negara Indonesia, merasa terlindungi, aman dan bebas melakukan segala aktivitas yang tidak melanggar hukum dan etika.


KORUPTOR

Kata itu (KORUPTOR) sungguh merisaukan. Sejarahnya panjang, sehingga semua relung kehidupan telah terkontaminasi. Kelihatannya untuk generasi sekarang sulit melepas kebiasaan KORUPSI itu. Mari kita buat generasi mendatang untuk malu melakukan KORUPSI, caranya ya jadikan KORUPSI wacana publik, sehingga semua modus operandi, dampak dan implikasinya menjadi nyata. Sekarang KORUPTOR semakin samar, bahkan menjadi sebuah kebenaran. Artinya yang tidak mau melakukan salah.

Saya percaya hampir semua orang merasa terpaksa melakukan KORUPSI, entah karena memang kekurangan atau memang tingkat konsumsinya terlanjur tinggi. Saya percaya kalo bisa semua orang tidak mau melakukan KORUPSI, sebab banyangin masak bangke dimakan? rebutan lagi. Tapi semua orang kan enggak sadar bahwa yang dimakan itu bangke. kalu toh sadar ya karena terpaksa itu. Seperti cerita Kanibal di kutup utara, atau seperti Sumanto dari Cilacap itu.

Banyangkan, bangke yang busuk, bilatungen, kita berika kepada orang orang tercinta kita, pada anak kita, pada istri/suami kita, pada orang tua kita, pada orang sekitar kita. kalau dalam kondisi normal gak mungkin lah. maka mari kasihanilah sesama dengan dsaling mengingatkan bahwa KORUPSI, betatpun kecil tetap perbuatan kriminal. Kita kan yang paling tahu, dan kita kan sulit menipu diri sendiri, jadi kita selalu pura pura terus.

Maka saya mengundang semua orang (terutama di Indonesia) untuk menulis pengalamannya tentang KORUPSI, dijamin tak ada yang menuntut, anggap ajak sebuah pengakuan dosa. Secara psikologis mengurangi beban karena merasa bersalah. lihat bloger saya lainnya

Mulai dari kita masing masing, menceritakan pengalaman melakukan KORUPSI, tentu semua nama, tempat disamarkan, sebab kita kan enggak menghakimi atau memutus perkara (ada praduga tak bersalah) atau menjelekjelekkan lembaga sendiri, kita hanya bercerita fiski sejarah. Jangan memfitnah, menuduh hanya menceritakan pengalaman tanpa ada pretensi sok suci, sok pahlawan.

KORUPSI itu kan bukan hanya uang, tapi juga waktu, kesempatan, peluang dll.

Bantulah saya menulis tentang KORUPSI ini, kita kumpulkan agar menjadi tulisan terpanjang, kalo perlu masukin ke Museum rekornya Bung Jaya Suprana. Terimakasih untuk semua orang.

Salam dari Jogja



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help