Blog EntryPrologMay 24, '06 11:19 AM
for everyone

Prolog

Selamat datang dan perkenalkan saya... (kalau anda di rumah saya pasti saya ajak minum teh panas ditambah jeruk sedikit, sebagai gantinya sambil liat website saya, download musik yang saya sediakan, pasti nyessss...)

Web ini adalah website pribadi, tanggungjawab dan segala konsekuensinya adalah ada pada diri saya sendiri. Tulisan yang ada ataupun tanggapan dalam web site ini tidak berimplikasi apapun juga sebab hanya sekedar obrolan. Tapi kalau ada yang memanfaatkan silahkan, kutip tanpa perlu ijin asal cantumkan sumbernya.

Blog ini akan berisi pikiran, ide, obsesi dan apapun yang ada dalam benak dan sanubari saya, terutama menyangkut publik dan keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi saya NKRI sudah final, hanya bagaimana kita memperbaikinya, meluruskannya, mengingatkannya dan memberdayakannya. Agar semua Warga Negara Indonesia, merasa terlindungi, aman dan bebas melakukan segala aktivitas yang tidak melanggar hukum dan etika.


KORUPTOR

Kata itu (KORUPTOR) sungguh merisaukan. Sejarahnya panjang, sehingga semua relung kehidupan telah terkontaminasi. Kelihatannya untuk generasi sekarang sulit melepas kebiasaan KORUPSI itu. Mari kita buat generasi mendatang untuk malu melakukan KORUPSI, caranya ya jadikan KORUPSI wacana publik, sehingga semua modus operandi, dampak dan implikasinya menjadi nyata. Sekarang KORUPTOR semakin samar, bahkan menjadi sebuah kebenaran. Artinya yang tidak mau melakukan salah.

Saya percaya hampir semua orang merasa terpaksa melakukan KORUPSI, entah karena memang kekurangan atau memang tingkat konsumsinya terlanjur tinggi. Saya percaya kalo bisa semua orang tidak mau melakukan KORUPSI, sebab banyangin masak bangke dimakan? rebutan lagi. Tapi semua orang kan enggak sadar bahwa yang dimakan itu bangke. kalu toh sadar ya karena terpaksa itu. Seperti cerita Kanibal di kutup utara, atau seperti Sumanto dari Cilacap itu.

Banyangkan, bangke yang busuk, bilatungen, kita berika kepada orang orang tercinta kita, pada anak kita, pada istri/suami kita, pada orang tua kita, pada orang sekitar kita. kalau dalam kondisi normal gak mungkin lah. maka mari kasihanilah sesama dengan dsaling mengingatkan bahwa KORUPSI, betatpun kecil tetap perbuatan kriminal. Kita kan yang paling tahu, dan kita kan sulit menipu diri sendiri, jadi kita selalu pura pura terus.

Maka saya mengundang semua orang (terutama di Indonesia) untuk menulis pengalamannya tentang KORUPSI, dijamin tak ada yang menuntut, anggap ajak sebuah pengakuan dosa. Secara psikologis mengurangi beban karena merasa bersalah. lihat bloger saya lainnya

Mulai dari kita masing masing, menceritakan pengalaman melakukan KORUPSI, tentu semua nama, tempat disamarkan, sebab kita kan enggak menghakimi atau memutus perkara (ada praduga tak bersalah) atau menjelekjelekkan lembaga sendiri, kita hanya bercerita fiski sejarah. Jangan memfitnah, menuduh hanya menceritakan pengalaman tanpa ada pretensi sok suci, sok pahlawan.

KORUPSI itu kan bukan hanya uang, tapi juga waktu, kesempatan, peluang dll.

Bantulah saya menulis tentang KORUPSI ini, kita kumpulkan agar menjadi tulisan terpanjang, kalo perlu masukin ke Museum rekornya Bung Jaya Suprana. Terimakasih untuk semua orang.

Salam dari Jogja



12 Comments
tulusjogja wrote on May 26, '06
Korupsi itu seperti berciuman (di pipi lho) pada lawan jenis, pertama kali berdebar debar, selanjutnya tanda sayang lama lama sekedar basi basi, akhirnya (di kalangan teman pada masyarakat moden) menjadi kewajiban publik.
inpedham wrote on May 26, '06
Bagaimana enggak korupsi, yang biasa saja kurang terusss.
Tunjukkan mana kantor pemerintah yang enggak melakukan korupsi? Mungkin tidak untuk kepentingan individu, tapi untuk kepentingan orang banyak. Ya gak?
haryantodhy wrote on Jul 6, '06
MULAILAH DARI DIRI SENDIRI DULU
tulusjogja wrote on Aug 17, '06
Ya itu,... saya nulis dengan maksud mengingatkan diri sendiri kok, lha yang baca juga saya terussss....
nggambleh wrote on Jan 18, '07, edited on Jan 25, '07
Wah wis kepancal sepur topike ning yo wis ben wong nembe sempat kewaca ....
Rama Tulus, menurut saya lho, korupsi sekarang ini nggak perlu dicegah kok untuk jangka pendhek selama nggak melok mata. Anggap saja ini salah satu kreatifitas personal yang limpat kalo nggak konangan, masalahnya penyakit ini sudah mendarah daging untuk generasi sekarang, ben wae ... yang penting konsekwensi hukumnya jelas dan tegas, kalo perlu diperberat. Menurut saya, ibarat penyakit sudah kronis, satu-satunya jalan ya tinggal nunggu waktu saja ... Dan untuk jangka panjang, nuwun sewu, malu untuk mengatakan padha anak balita kita "ojo ngomong-ngomong mbakyumu yo le, yen kowe mau tak tukokke sate" atau " yen ditakoni ibumu, ngomongo yen kowe karo bapak mau ora mampir ngendi-endi ....."
tulusjogja wrote on Feb 5, '07, edited on Sep 26, '07
Ibarat banjir di Jakarta, itu kan ulah manusia tidak dapat mengelola alam, tapi kalau dicari siapa yang salah.. wah jadi repot, semua akan menyalahkan orang lain. Itulah KORUPSI. Sulit, sulit menghindar dan sulit diudari. Paling tidak kita mengurangi, kalau korupsi tidak sengaja ya nggak papa. Ibarat menunggu woh asem jatuh dari pohon, asal jangan ngerogrog pohon asem supaya buahnya jatuh gitu. Banjir -seperti di Jakarta- kan bisa diperkirakan hanya soal waktu, dan aktunya telah tiba, kita semua merasakan. Saya setuju kaliyan panjenengan soal korupsi itu sebagai penyakit kronis, kita tunggu waktunya saja. Waktunya hancur atau waktunya lebur. Mudah mudahan waktunya insyaf. Insyaf kan gak bisa dipaksa, dia akan tuwuh dari dalam... makanya kita berdoa aja, gak usah ikut ikut menyalahkan sana sini.
albastari wrote on Sep 25, '07
Menurut saya pembersihan korupsi harus dilakukan dari atas dan hukumpun harus tegas kayak di RRC,tidak pandang itu presiden maupun ketua RT kalau terbukti Korupsi ya dihukum mati,hukuman untuk koruptor jangan dibatasi pada hukuman minimal di KUHP,contohnya kalau maling ayam yang harganya 30.000,- dihukum 3 bulan yang korupsi 1 trilyun mestinya tinggal diperhitungkan saja berapa ekor ayam dikali 3 bulan adilnya kan begitu.
Cuma sayangnya aparat hukumnya juga korupsi makanya harus dibentuk pengadilan rakyat karena rakyat yang dirugikan.Yang dikorupsi kan uang rakyat diambil dari pajak rakyat dari pembangunan untuk rakyat.
Tapi sistem hukum kita yang tidak mendukung,karena semua hanya berdasarkan hukum "positip?" kita lihat saja berapa tahap agar hukum bisa dilaksanakan eksikusinya dari vonis,Banding,PK dan PK dan PK tidak ada habisnya.
Aparat hukum yang diberi wewenang sering menyalahkan kewenangannya dari pemberian SP3,Tuntutan semua bisa diatur dengan uang,bahkan sampai tingkat tertinggipun demikian kalau sudah begini apa yang disebut dalam serat kalathida itu memang harus terjadi?
tulusjogja wrote on Sep 26, '07
Untuk di negeri ini - Indonesia - dengan sistem pemerintahan yang ada, hampir mustahil memberantas korupsi dengan pendekatan hukum dan politik. (setuju dengan panjenenganipun "nggamblel lan "abastari") Karena pemegang otorita dalam bidang hukum dan pemegang kekuasaan politik, tidak lepas dari perbuatan KORUPSI. Yang tidak korupsi itu kan yang belum mendapat kesempatan aja.
Yang masih punya harapan itu dengan pendekatan budaya, seperti halnya dalam budaya Jawa ada mitos "pesugihan". Orang, yang dituduh memiliki pesugihan, tentu tidak nyaman, dan orang yang berhubungan dengan orang yang "memeliharan pesugihan" juga enggan, jadi secara sosial mendapat sanksi. Meskipun dalam praktik bisa mengarah ke fitnah, tapi itu harga sosial yang harus dibayar agar dalam masyarakat tidak terjadi ketimpangan/kesenjangan ekonomi yang terlalu lebar.
Dalam kasus KORUPSI, hendaknya mengubah mind set masyarakat terhadap orang kaya (kepemilikan harta yang berlebihan), hendaknya orang akan melihat latar belakang orang dapat mendapat kekayaan. Jadi bukan melihat kekayaan yang dimiliki namun kewajaran mendapatkan kekayaannya itu. Misalnya seorang seniman tiba tiba kaya, bisa jadi sebab karyanya tiba tiba laku keras dipasaran. Pedagang menjadi kaya, wajar saja sebab memang kerjanya mencari untung. Tapi kalau hanya PNS (tanpa ada usaha lain). meskipun seorang pejabat, kok kekayaannya melebihi rata rata pada levelnya, nah itu bisa dicurigai sebagai "mendapat kekayaan secara tidak wajar", orang semacam ini gak perlu mendapat penghormatan sosial, namun justru harus mendapat penghinaan sosial - sebagaimana orang yang "memeliharan pesugihgan."
Nah salah satu cara adalah dengan membuat istilah yang lucu, ringan tapi merendahkan bagi sebutan KORUPTOR, mungkin disetiap daerah berbeda istilahnya. Di Jogja misalkan bisa menggunakan istilah TIKUS, Julukan diam-diam ini merupakan sanksi sosial.
Tapi masyarakat kita kan tidak demikian, orang kaya justru mendapat penghormatan - tanpa dikritisi dari mana mereka mendapat kekayaannya, sehingga orang berlomba lomba mencari kekayaan - bahkan dengan cara KORUPSI untuk mendapat kenikmatan duniawi dan penghormatan sosial. Menrut pendapat saya, orang Indonesia itu sangat membutuhkan penghormatan sosial, pengakuan sosial atau penerimaan sosial, sebab di sini buka sebagai masyarakat individualisme, tapi masih bersifat paguyuban. Nah memberantas KORUPSI dengan senjata sosial-budaya mungkin lebih efektif ketimbang senjata hukum yang tumpul.
albastari wrote on Sep 26, '07, edited on Sep 26, '07
Kalau sekarang Pemilihan Presiden dilaksanakan secara langsung,pemilihan wakil2 rakyat secara langsung,pengadilan kenapa tidak dilakukan secara langsung,saya sebenarnyalah wakil2 rakyat bisa dibilang buta Politik karena selama 32 tahun tidak boleh berpolitik, sehingga mereka beranggapan politik itu hanya untuk cari untung buat pribadi, demikian pula hukum sudah menjadi alat kekuasaan dan bisa dibisniskan,pendidikanpun sudah tercemar dengan bisnis,gelar sarjanapun sudah dibisniskan sehingga Korupsi sekarang tidak ada bedanya dengan bisnis, susahnya budaya ewuh pakewuh itu hanya berlaku untuk rakyat kecil,untuk pejabat tinggi hal itu tidak berlaku justru mereka sudah kehilangan urat malu alias ndableg, bahkan untuk menjadi pejabat mereka menghalalkan segala cara kedukun yang penting mas picis raja brana nyukupi pitung turunan.
Bahkan mereka sangat ahli dalam memperdayakan (memperdayai?) masyarakat.
Saya dulu pernah membaca buku Les Hitam karangan SB Candra, apa perlu rakyat harus berbuat begitu ?
Jaman sekarang untuk menjadi Bupati saja harus mengeluarkan dana bermiliard-miliard,bahkan untuk jadi lurah harus mengeluarkan uang ratusan juta karena harapan mereka kalau sudah menjadi pejabat mereka bisa memperoleh sepuluh kali lipat lha ini namanya apa pakde ?.Bisnis apa Korupsi aku jadi bingung

tulusjogja wrote on Sep 28, '07
Setuju sekali...
Ya undering perkara (pokok masalahnya) ada pada kecintaan terhadap kebendaan. Masa sih....ajining diri (harga diri kemanusiaan) kalah dengan benda benda dan kenikmatan duniawi? Tapi siapa yang maido (memungkiri), kita semua senantiasa dalam bujukan keduniaan. Setiap saat, setiap waktu hanya bujukan keduniaan lewat... katakanlah dari TV, lewat pergaulan sosial, lewat agama (menjanjikan kenikmatan sorgawi kok dengan parameter keduniaan), dikeluarga kita sendiri (coba apa permintaan anak dan istri kelau gak keduniawian). Pantes aja kalau kita gak sempat merenung barang sedikit tentang hal yang non kebendaan, misalnya rasa solidaritas, pengorbanan, kasih sayang terhadap orang lain tanpa pamrih.
Korupsi, atau mendapat ibalan dengan cara mencuri, menipu, memanipulasi, mengekploitasi, menggunakan yang bukan hak nya dll itukan dilakukan oleh siapa saja, mulai pedagang kaki lima sampai konglomerat, mulai pengemis sampai pejabat tinggi, mulai tukang bejak sampai guru besar. Semua (hampir pasti) pernah melakukan korupsi.
Apa yang harus dilakukan? menurut saya banyak banyaklah ngomongin tentang jahatnya perbuatan korupsi, siapa tahu kita sendiri jadi inget untuk tidak melakukan korupsi dengan senang hati. kalau melakukan itu karena terpaksa, sebab kita tak mungkin lepas dari KORUPSI, bukankah system masyarakat kita telah terkontaminasi KORUPSI pada kadar yang sangat pekat? Dan senantiasa inget bahwa dunia tidak kita tinggali selamanya, sekeda mampir ngombe...sak kedaping netro...jadi gak perlu ngongso...mengejar keduniaan. Inget.. samubarang kuwi arep ngunduh wonging pakarti... segala sesuatu akan berpulang pada diri kita sendiri...makanya hidup kita sederhana saja.. sakmadya.
lovelysillyshilda wrote on Jan 14
"KORUPSI itu kan bukan hanya uang, tapi juga waktu, kesempatan, peluang dll."

saya curiga jangan2 saya pernah melakukan tindak korupsi juga

tulusjogja wrote on Jan 15
Betul sekali..
Kejujuran pada diri sendiri, dan pada orang lain lah yang bisa menghindarkan dari perbuatan korupsi, selama itu masih ada, bisa jadi kita juga (masih mungkin) melakukannya.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help