Blog EntryKejawaan dan AgamaApr 1, '07 12:24 PM
for everyone
Kejawaan, atau budaya Jawa, atau Kejawen. Pada saat ini mulai pudar. Kepudarannya disebabkan berbagai hal, antara lain karena pendukungnya memang sudah sangat berkurang, banyak generasi muda Jawa yang tidak lagi mengerti dan memahami budaya Jawa, dari mereka tentu saja tidak bisa diharapkan untuk dapat mengembangkannya, kalau ada hanya sebagian kecil. Budaya Jawa juga tidak dapat menyesuaikan dengan kemajuan teknologi, kalau dipaksakan maka ada kejanggalan.
Budaya Jawa senantiasa disalah mengerti oleh ideologi besar (baca : agama). Mereka senantiasa cemburu dan menganggap Budaya Jawa (kejawen) sebagai perbuatan "tidak berguna" dan bahkan bisa membawa pada pikiran sesat.
Namun anehnya banyak agama yang menggunakan budaya Jawa untuk memasukkan ajarannya pada umatnya. Tengok saja ada gereja bernama Gereja Kristen Jawa, ada Walisongo yang menggunakan Budaya Jawa (wayang dan gamelan) untuk dakwah dan sebagainya.
Menurut saya budaya dan agama itu dua hal yang (agak) berbeda namun bukan bertentangan. Artinya dapat saja orang mengembangkan budaya Jawa tanpa harus kehilangan keimanan pada Tuhan sesuai agamanya, dan membesarnya budaya Jawa tidak akan mengecilkan agama.
Budaya seringkali menggunakan pendekatan estetika dalam mengekspresikannya, sementara agama justru diekspresikan dengan kekerasan, aneh ya.
Seharusnya agama maupun budaya, diekpresikan dengan hati dan keindahan, sehingga menambah semarak hidup di dunia.
Saya seringkali mendengar pemuka agama (berbagai agama) yang menggunakan kata-kata keras untuk umat agama lain, hal ini menjadikan umat memiliki pemikiran yang keras terhadap umat agama lain. Jadilah agama sebagai pemicu kekerasan, setidaknya menjadikan toleransi terhadap (umat) agama lain menjadi hanya kata-kata manis semata (kembang lambe).
Mengapa Islam begitu menyeruak di hati orang Jawa?
Dulu orang Jawa muak dengan adanya perang Paregreg (perang antara elite umat agama Hindu dan Budha), datanglah agama baru yang penuh perdamaian dan bersifat egaliter (Islam yang dibawa oleh orang-orang Tionghoa dan orang pedagang Gujarat). Jadilah agama Islam mewarnai budaya Jawa dengan perdamaian dan toleransi yang tinggi. Indah bukan?
Budaya Jawa juga bisa dirusak oleh politik, pada jaman Orba, budaya Jawa digunakan untuk memperkuat statusquo penguasa, akibatnya menimbulkan antipati bagi non Jawa. Maka jadilah Budaya Jawa sebagai tertuduh yang tak pernah diadili di depan hakim.

Maunya apa sih?
Maunya mengajak untuk mengembangkan laku budaya sesuai dengan latar belakang budaya yang dimiliki, asalkan bisa mengasah nurani dan menambah toleransi dalam pergaulan bermasyarakat, itu aja...



18 Comments
asianatelier wrote on Apr 4, '07
Saya tertarik ingin ikut berpendapat masalah Kejawaan Dan Agama ini.
Saya seorang Jawa dan juga seorang penganut agama Islam.
Menurut saya Kejawaan dan Agama ini saling berhubungan.
Menurut pemikiran saya, Kejawaan itu adalah sebuah budaya yang terbentuk oleh adanya suatu masyarat, khususnya suku Jawa.
Kalau mau ditilik dalam kacamata agama, khususnya Agama Islam, Kejawaan itu adalah "additional thing" dari Allah SWT kepada manusia khususnya suku Jawa. Allah menciptakan manusia Jawa beserta tingkah lakunya sebagai orang Jawa, yang pada akhirnya terciptalah budaya Jawa. Tentu saja macam-macam ciptakaan Allah untuk manusia Indonesia, ada juga budaya Sunda, budaya Aceh, budaya-budaya lainnya. Hal ini menunjukkan Maha Kuasa Allah SWT mampu menciptakan makhluk bermacam-macam budaya.
Namanya budaya, tentu berangsur-angsur akan mengalami perkembangan. Nah perkembangan salah satunya memasukkan unsur agama dalam budaya Jawa. Bahasan akan saya khususkan kepada agama Islam. Mungkin yang menjadi pertentangan adalah masalah Kejawaan yang mungkin mengarah ke arah tindakan musyrik atau menyekutukan Allah SWT. Nah kalo hal ini terjadi ya kembali kepada tiap individu masing-masing, seberapa besar keimanan kita kepada Allah SWT, sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Menurut saya gak salah kalo tetap memperhatikan budaya suku kita selama tidak menyekutukan Allah SWT, karena pada intinya Islam itu adalah Percaya tiada Tuhan selain Allah SWT, dan Nabi Muhammada SAW sebagai utusan-Nya. Banyak kok do'a do'a Jawa yang bernafaskan Islam, coba baca di buku Betal Jemur Addamakna. Kan ada toh dalam bahasa Jawa istilah Gusti Allah dan Kanjeng Nabi...nah ini menunjukkan Kejawaan dan Agama bisa bersatu....Be proud of yourself, because God create us in better condition...
nuriwidhi wrote on May 15, '07
Salam kenal bapak.
Saya rindu agama yang toleran nih..
tulusjogja wrote on May 15, '07
Salam bahagia, saudaraku....
Agama itu pada dasarnya mengajarkan kita untuk mengenal Tuhan (Gusti Allah), jadi titik tujuannya Tuhan Allah. Yaitu dzat yang maha pemurah dan maha penyayang. Itulah tanda kita mulai mendekati Tuhan, yaitu dalam hati kita penuh dengan rasa pengertian dan rasa sayang terhadap sesama dan alam raya seisinya.
Kita seringkali salah dalam memahami agama, seolah agama adalah tujuan.
Orang Indian, orang Eskimo, orang Arab, orang Jawa, orang Bali, orang Eropa, orang Tionghoa dan semua orang, semua kultur memiliki cara untuk mendekati Tuhannya. Kenapa harus dipertentangkan? Kesimpulannya orang beragama dengan baik pasti toleran. Kalau anda rindu agama yang toleran, artinya kerinduan anda sudah benar... kerinduan pada keindahan..kerinduan pada Tuhan....
sentirpitu wrote on Sep 7, '07
...sebenarnya agama bisa juga menjadi 'budaya" seperti yang sekrg terjadi. Orang lebih melihatnya (agama) sebagai budaya (kebiasaan?) sehingga justru lupa dg intisari agamanya. Jadilah seperti ini kita di Indonesea. Mengakunya bangsa yang beragama tapi budaya korupsinya minta ampun..?? Ironis khan..?udah tahu mencuri dosa toh masih dilakukan. Mungkin karena kita tahu cara untuk meminta ampun atas itu ama Tuhankah???.
Anggapan bahwa Budaya Jawa (kejawen) sebagai perbuatan "tidak berguna" dan bahkan bisa membawa pada pikiran sesat menurut saya bukan sebatas pandangan agama, tapi bisa saja justru pandangan budaya. Kalau di kristen dulu ada Kiai Sadrah yang melakukan dakwah di kalangan orang Jawa .. cek .- http://sentirpitu.multiply.com/journal/item/1/Kiai_Sadrach -- tapi akhirnya harus bertentangan dengan misionaris Belanda. Bisa saja pada waktu itu mereka lebih berpikir bahwa 'apapun yang berbau Jawa" lebih rendah derajatnya dibanding apapun yang berbau belanda ??'.
tulusjogja wrote on Sep 8, '07
Godaan orang beragama itu memang besar (apalagi tokohnya), sebab akan cenderung mengasah "rasa beragamanya" ketimbang "rasa berkeTuhanan" dan "rasa kemanusiaannya."
Dulu -kalau gak salah- nabi Ibrahim AS ketika memperkenalkan agama monothiesme, gebragan pertama degan menghancurkan berhala berhala yang disembah di rumah Allah (sekarang dilingkungan ka'bah). Artinye Beliau menganjurkan jangan menyembah berhala, tapi menyembah Tuhan Allah.
Namun, orang yang mengaku umatnya sekarang justru "memberhalakan agama" dan "memberhalakan Tuhan" serta "memberhalakan kitabnya."
Bahkan berani mengklaim bahwa merekalah yang paling tahu dan memahami Tuhan.
Padahal apasih Tuhan itu? bagaimana memahaminya? mereka merasa telah menjawab dengan benar.
Akibatnya dia bisa berbuat apasaja demi "mengatas namakan Tuhan atau kepercayaannya", lha manusia lain dianggapnya salah dan tidak penting....inikan paradoks orang beragama.
Seperti yang dicontohkan Bung Sentirpitu diatas perihal orang korupsi dan mencuri.
Orang Jawa, dengan budaya Jawanya tidak pernah melawan siapa saja, tapi "menjawakan", "membicarakannya", "menerjemahkannnya", "mendekatinya" dengan budaya, maka oleh Budaya Jawa agama menjadi lebih sejuk, santun, toleran dan "biasa biasa saja".
Contohnya Islam yang dibawakan oleh Sunan Kalijaga, Syeh Siti Jenar (dalam konteks filsafat bukan konteks politik), Kristen yang dibawakan oleh Kia Sadrah....dll
Agama itu sebenarnya dunia batin manusia, bukan dunia politik, bukan dunia kelompok, bukan dunia kepentingan....
Budaya itu bungkus......kemasan....kebiasaan....
Saya setuju dengan bung sentirpitu: "orang lebih melihatnya (agama) sebagai budaya (kebiasaan), sehingga lupa dengan intisari agamanya....
Yuk kita melihat agama masing masing -untuk sampai intisarinya- dengan budaya masing masing, nantikan lebih indah. damai dan sejuk dihati.... enggak perlu kekerasan apalagi perang pake senjata....
sentirpitu wrote on Sep 18, '07
.sangkarparaning dumadi .... manunggaling kawula klayan gusti ..???
tulusjogja wrote on Sep 19, '07
Kasinggihan, punika panci leres.
Menawi kita sampun saget ngupadi kasunyatanipun "sangkan paraning dumadi", sakyektisipun kita mboten bade nggrangsang, namun njih mboten nglokro awit saking jejibahanipun manungsa puniko njih ngupadi kanti saestu, namun mboten ngongso. Kita rak njih wonten papan dunungipun piyambak piyambak, menawi dados PNS njih mboten nggadahi gegayuhan bondo doya, menawi dados guru njih kedah saget digugu, menawi priagung njih kedah saget dados panutan, menawi sampun sepuh njih kedah kagungan kawicaksanan mboten kosok wangsulipun.
Nyuwun sewu kulo kok kados nguyahi segara kaliyan nak mas "sentirpitu," kadosipun panjenengan langkung winasis. Kula namung tiyang ndusun.


sentirpitu wrote on Oct 4, '07
he..he winasis apa sih pakde,.....panjenengane ingkah tiyang sepuh pasti luwih joss. ..!! Saya cuman orang yg lagi mencoba 'menemukan akar saya" .koq.!!
penisusilowati wrote on Nov 25, '07
matur sembah nuwun
ditz777 wrote on Jan 28
boleh ikut komentar...
benar sekali bahwa agama itu adalah dunia batin... namun begitu juga budaya adalah dunia batin... orang yang menjalankan budaya, tidak bisa hanya lahirnya saja, namun juga batinnya...

setiap agama sudah sewajarnya masuk kedalam budaya sebagai 'cara perkenalan' dengan penduduk setempat, karena secara budaya [batin] agak sulit bagi seseorang untuk menerima sesuatu yang tidak sejalan dengan budayanya... oleh karena itulah agama masuk kedalam sebuah kelompok masyarakat melalui budaya masyarakat setempat...

Cara melakukan siar agama melalui budaya terbukti sangat ampuh, tidak saja di Jawa, tetapi juga sampai ke Aceh dan Papua...

suwun...
tulusjogja wrote on Jan 29
Terimakasih semua komentar akan menambah wawasan kita semua...
tawangloen wrote on Feb 18
Nuwun. Namung urun rembug. Prekawis Kejawen, wonten konco Islam (Islamipun sprititual sanes Islam syariah 'thok'), guru olah napas, tiyang saking Melayu-Medan ingkang sampun lenggah wonten Tangerang Banten, wicanten makaten : Sing bener kuwi Islame wong Jowo, Kejawen. Piyambakipun malah langkung mangertos konsep ' Manunggaling Kawulo Gusti'. Wonten Jakarta sameniko kathah paguyuban sufi ingkang ngecakaken konsep MKG.
Ngaturaken sugeng lan rahayu ...
Comment deleted at the request of the author.
ditz777 wrote on Feb 18
Salam bahagia, saudaraku....
Agama itu pada dasarnya mengajarkan kita untuk mengenal Tuhan (Gusti Allah), jadi titik tujuannya Tuhan Allah. Yaitu dzat yang maha pemurah dan maha penyayang. Itulah tanda kita mulai mendekati Tuhan, yaitu dalam hati kita penuh dengan rasa pengertian dan rasa sayang terhadap sesama dan alam raya seisinya.
Kita seringkali salah dalam memahami agama, seolah agama adalah tujuan.
Orang Indian, orang Eskimo, orang Arab, orang Jawa, orang Bali, orang Eropa, orang Tionghoa dan semua orang, semua kultur memiliki cara untuk mendekati Tuhannya. Kenapa harus dipertentangkan? Kesimpulannya orang beragama dengan baik pasti toleran. Kalau anda rindu agama yang toleran, artinya kerinduan anda sudah benar... kerinduan pada keindahan..kerinduan pada Tuhan....
Saya setuju pak... sekarang ini banyak orang yang membuat agama menjadi tujuan... bukan menjadikan agama sebagai cara mencapai Sang Hyang Widhi... akibatnya banyak orang yang memaksakan agamanya kepada orang lain, dan menganggap agama orang lain itu sesat... yang lebih parahnya, bagaimana membuat agama yang kita anut menjadi agama yang paling banyak pengikutnya...
tulusjogja wrote on Feb 18, edited on Feb 18
Nuwun. Namung urun rembug. Prekawis Kejawen, wonten konco Islam (Islamipun sprititual sanes Islam syariah 'thok'), guru olah napas, tiyang saking Melayu-Medan ingkang sampun lenggah wonten Tangerang Banten, wicanten makaten : Sing bener kuwi Islame wong Jowo, Kejawen. Piyambakipun malah langkung mangertos konsep ' Manunggaling Kawulo Gusti'. Wonten Jakarta sameniko kathah paguyuban sufi ingkang ngecakaken konsep MKG.
Ngaturaken sugeng lan rahayu ...
Matur nuwun Kisana Tawangloen,
Sok sinteno kewawon ingkan saget nyecep konsep Manunggaling Kawulo Gusti kanti sae, miturut wawasan kula, piyantun punika temtu langkung trapsila anggenipun nindaaken parentah agamanipun, mboten pentalitan, nangin tawadu' kanti manah ingkah prasaja.
bemuslimconr wrote on Mar 1
Sebuah rententan dialog yang menarik. Salam sejahtera buat semunya
derapkaki wrote on May 4, edited on May 4
Menarik ditelisik faham kejawaan itu. Terutama karena sifatnya yang seperti ideologi. Tidak akan punah selama jagat dan manusia Jawa terlahir. Hanya kadar kejawaannya memang senantiasa menurun dari tahun ke tahun. Sebuah perkembangan memang tak mungkin dielakkan, dengan berbagai reduksinya. Namun beberapa tokoh sepuh selalu mengimbau, dadiyo opo wae ning ojo ninggalake Jawane. Ini sudah dicontohkan pula oleh Kanjeng Sunan Kalijaga,yang sedemikian revolusioner ketika itu. Sunan paling terkenal di Jawa itu tetap mengenakan surjan (busana asli Jawa), di tengah para Sunan lain yang mengenakan busana Arab. Akulturasi budaya yang berkelindan dalam berbagai ajaran agama bahkan ada karena peran cerdas beliau. Sebuah sasmita, bahwa kualitas diri seseorang justru ada pada keaslian budayanya, bukan pada kesan atau gaya modern. Justru peradaban di abad abad kemudian sebenarnya adalah hasil dari garapan Sunan Kalijaga yang progresif-futuristik, dengan berpegang pada budaya aslinya, Jawa.
tulusjogja wrote on May 9
Kanjeng Sunan Kalijaga adalah winasis yang menjadikan agam Islam dipeluk oleh sebagian besar orang Jawa, sehingga sulit dipisahkan antara Jawa dengan Islam. Coba kalau yang menyebarkan Islam itu bukan kajeng Sunan Kalijaga, bisa jadi Islam tidak akan ngremboko seperti ini.
Namun mengapa sekarang ada orang Islam yang mencela cara beragama model Jawa- seperti yang diajarkan Kanjeng Sunan Kalijaga - beragama dengan konteks lokal. Apa mereka lupa, tepatnya enggak faham bahwa dengan model beragama seperti itulah yang menjadikan Islam besar di Indonesia, khususnya di P Jawa. Dan Ingat pengaruh kerajaan Jawa Islam sampai juga ke luar Jawa.
Ada sebagain kecil umat Islam yang menginginkan pemurnian agama seperti di daearah asalnya - kultur Arab. Itu sih boleh boleh saja, tapi jangan dong memaksakan kehendaknya dan menganggap dirinya paling benar.
Model pengembangan agama dengan konteks lokal tidak hanya Agam Islam, di kalangan Nasrani ada juga, dan jauh sebelumnya agama Hindu diadopsi oleh warga Bali dengan kontek lokal, dan hasilnya sangat indah dan kontekstual. Di mata saya, agama Hindu Bali bagi masyarakat Bali adalah rahmatan lilalamin.
Jadi, nenek moyang kita tidak sebodoh yang disangka orang, beliau beliau telah mewariskan kearifan bagi anak cucunya lewat berbagai budaya lokal. Kebetulan saya orang Jawa, ya mencoba menggali kearifan budaya Jawa untuk memperindah hidup. Hanya jiwa yang teduh dan damai bisa mengenal kasih Tuhan.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help