Gambar

Photo AlbumPeh CunJul 30, '07 4:23 AM
for everyone
Hoo Hap Hwee Yogyakarta dalam ritual Peh Cun di Parangtritis

altar_pr01.gif
  
altar_pr02.gif
  
altar_pr04.gif
  
altar_pr05.gif
 1 Comment 
altar_pr06.gif
 1 Comment 
altar_pr07.gif
  
altar_pr08.gif
  
altar_pr09.gif
  
altar_pr010.gif
 2 Comments 
altar_pr011.gif
  
altar_pr012.gif
  
altar_pr013.gif
  
altar_pr014.gif
  
altar_pr015.gif
  
altar_pr016.gif
  
altar_pr017.gif
  
altar_pr018.gif
  
altar_pr019.gif
  


18 Comments
sentirpitu wrote on Sep 21, '07
peh cun tuh apa sih 'de..???
tulusjogja wrote on Sep 22, '07, edited on Sep 22, '07
Peh Cun merupakan upacara tradisi masyarakat Tionghoa yang memperingati nilai kepahlawanan (patriotisme dan menjunjung tinggi kejujuran) dan kesadaran cosmis (bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta), pada hari itu letak Matahari, Bumi dan Bulan ada pada satu garis, sehingga gravitasi di Bumi besar, buktikan dengan mendirikan telor mentah (pada tengah rari/ pk 11.45- 12.45, sebab kuning telor ada pada posisi dibawah (jatuh), pada hari biasa ada di tengah jadi gak seimbang/ tidak bisa berdiri.
Dalam melakukan prosesi kebudayaan ini kami Hoo Hap Hwee, menggunakan akulturasi budaya, lihat saja uborampe disamping, itu kan sajen model Jawa, sedangkan yang memimpin upacara adalah pendeta Tao (kami buka altar di Pantai Parangtritis, sementara kita pun mengikuti upacara dari panitia yang menggunakan cara Konghucu (di pantai Parang Bolong – lebih ke barat). Pada hari itu kita juga mohon ijin di Cepuri Parangkusumo dipandu oleh Juru Kunci Parangkusumo (Islam kejawen)....
Kalau pengertian Peh Cun itu sendiri bisa dilihat di
http://www.erabaru.or.id/k_11_art_36.html
http://indonesian.cri.cn/chinaabc/chapter18/chapter180104.htm
http://www.budaya-tionghoa.org/modules.php?name=News&file=article&sid=149
http://id.wikipedia.org/wiki/Peh_Cun
sentirpitu wrote on Sep 22, '07
thanks .. buat penjelasannya ....
kipaz wrote on Oct 9, '07
oh gituu..aq aja yg keturunan tionghoa ga ngerti hihihi
tx buat infonya om
tulusjogja wrote on Oct 9, '07
Ya kebudayaan itu kan milik semua orang yang mau mendukungnya. Kita saling berbagi informasi, ada pepatah "tak kenal maka tak sayang," nah dialog budaya itu bisa membuat jalinan sosial menjadi harmonis, sebab saling memahami dan menghargai. Bukankah kebudayaan -termasuk didalamnya kesenian, teknologi dan segala symbolisasinya- sebagai upaya manusia untuk hidup lebih baik?
Oh ya anak muda, satu hal yang perlu saya sampaikan, melestarikan tradisi bukan berarti romantisme masa lalu atau ingin kembali ke masa lalu, justru sebaliknya tradisi digunakan untuk pinjakan ke masa depan.
Berbanggalah sebagai orang keturunan Tionghoa, sebab nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaannya sangat luas dan mendalam.
iwanbinanto wrote on Nov 3, '07
Wah ...
dak ikut ,,
abartig wrote on Nov 7, '07
Phantastic Photos, ini ambilnya dimana pak?
tulusjogja wrote on Nov 7, '07
Dalam acara Peh Cun di Parangtritis Jogjakarta.
m4warbiru wrote on Dec 19, '07
wah asik banget tuh barongnya ,kira kira mabok gak ya heheh
m4warbiru wrote on Dec 19, '07
wah sip banget itu,hihi inget waktu naik kuda
tulusjogja wrote on Dec 23, '07
m4warbiru yang baik.
Ada perbedaan pola kesenian tradisional Tionghoa (seperti Liong dan Samsie) dengan kesenian tradisional Jawa seperti Jatilan, kuda kepang atau Reog. Dalam tradisi Tionghoa yang "diisi" oleh roh atau "sesuatu" itu barangnya, orangnya tetap dalam kondisi sadar. Berbeda dengan Reog atau Jatilan yang "diisi" atau "dimasuki" pemain atau orangnya, sehingga pemain jatilan atau Reog sering trans atau tidak sadar/"kemasukan"

Prosesi "pengisian" barang yang akan dimainkan, Liong atau Samsie disebut Thiam, barang yang telah di thiam kita anggap suci, sebab sudah ada yang bersemayam di dalamnya. Kita percaya yang bersemayam itu adalah sesuatu yang baik, dapat berupa roh baik, spirit yang baik, semangat yang baik dan keinginan baik. Maka Liong atau Samsie Hoo Hap Hwee memang khusus untuk keperluan ritual, yaitu khusus untuk keperluan berdoa.
Namun kesenian ini hanyalah laku budaya dan laku spiritual, bukan laku religi (agama), jadi para pemain asal percaya akan kesakralan kesenian ini bisa ikut, tanpa mempersoalkan latar belakang agama atau kepercayaannya.

Pantai Parangtritis memang pantai yang indah dan penuh nuansa spritual, Pantai ini dilengkapi dengan kuda dan bendi. Tapi pantainya berbahaya untuk mandi di laut, sebab ada arus bawah yang deras. Tapi kalau sekedar main air di tepi asyik juga sambil berkejaran dengan ombak yang bergulung gulung silih berganti....
d3w4nd4ru wrote on Feb 16
wah ini mengingat kan aq waktu tirakat di parang kusumo hehehe
cari kanthillllllllll
tulusjogja wrote on Feb 16
Waalahh kalau Tirakat di Parangkusumo ing selasa kliwon medeni lho..
ora gur kanthil, salah salah malah iso kintil lho...
dewa76 wrote on Feb 22
marai kemutan cempuri ini
tulusjogja wrote on Feb 24
Ya di cepuri Parangkusuma pada dasarnya untuk menghormati "Perjumpaan" Kanjeng Pangeran Senapati dengan Nyi Lorokidul, namun ada juga yang ngalap berkah
Pada dasarnya, menghormati siapa saja itu gak ada jeleknya, lebih banyak baiknya... Kemudian ngalap berkah, atau berdoa itu juga sebuah ikhtiar spiritual....
steeve wrote on Mar 31
Perpaduan budaya yg luar biasa sehingga melahirkan Indonesia sekarang.
ketutski wrote on Jun 24
kalo poto ini upacara apa namanya...Bapak?
tulusjogja wrote on Jun 24, edited on Jun 24
Kami sedang sembahyangan di Pantai Parangtritis ketika hari raya Peh Cun..
Kami membuka altar tepat di depan "gerbang" laut Kidul, gerbang itu di tepi pantai di mana menghubungkan antara dunia nyata dan dunia alam gaib...
Kami akan memanjatkan doa kepada penguasa langit agar manusia diberi kemakmuran dan kesejahtaraan...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help